Islam

Turun 14 Abad Silam, Ayat Ini Terbukti Manjur Tangkal Hoax

21

Baru-baru ini terjadi kekerasan dalam dunia olahraga. Mirisnya, tindak kekerasan tersebut dikabarkan diiringi lantunan tauhid oleh para pelaku kejahatannya.

Publik seperti biasa langsung memviralkannya dengan beragam reaksi. Sekelompok orang mencuitkan celaan dengan mengkaitkan perbutan dengan kelompok teroris, sebagian lain mencuitkan nasihat tentang dosa besar penyalahgunaan kalimat tauhid.

Fenomena di atas menunjukan bahwa meskipun pesan tersaji dalam intonasi berlawanan, namun keduanya saling memperkuat impresi fitnah terhadap kalimat tauhid tersebut.

Karena di kemudian hari, pihak berwajib merilis pernyataan bahwa penggunaan kalimat tauhid dalam kejahatan tersebut adalah tidak benar.

Fenomena ini sangat jamak terjadi di media sosial. Fakta masih sumir sering disahuti cuitan celaan, atau sahutan nasihat namun malah memperkuat fitnah sengaja dilontarkan penyebar hoax.

Semua kita memang telah sepakat memberantas hoax. Negara melalui badan siber nasional pun sudah menyiapkan perangkat hukum untuk mencegah dampak kerusakan penyebaran hoax.

Namun jemari kita tampaknya masih terlalu gatal untuk tidak berkomentar atas potongan video berlalu lalang di lini masa. Belum ada moralitas memadai untuk membuat kita menahan diri atas pancingan-pancingan keruh pihak bertanggung jawab.

Pada tahun 2017, Polri menangani kasus cyber crime atau kejahatan siber menunjukan kenaikan 3% dibanding pada 2016, berjumlah 4.931 kasus. Kejahatan siber ditangani polri sebanyak 3.325 kasus di antaranya merupakan kejahatan hate speech atau ujaran kebencian. Angka tersebut naik 44,99% dari tahun sebelumnya, berjumlah 1.829 kasus. Kejahatan hate speech paling banyak di antaranya diselesaikan Polri adalah kasus penghinaan sebanyak 1657.(sumber detik.com)

Angka-angka miris di atas menunjukan keberadaan badan pengawas lalu lintas social media belum cukup membendung syahwat netizen untuk menyebarkan hoax.

Memprihatinkan memang. Padahal Islam sebagai agama mayoritas dianut penduduk Indonesia sudah menyampaikan kaidah bermedia sosial sejak 14 abad sebelum keberadaannya.

Tabayyun

Tabayyun tidak lagi milik ruang-ruang kajian islami. Perlahan kata tabayyun menggantikan kata “cek dan ricek” di ruang publik. Karena penggunaan kata ini sudah mulai menyusup di ruang talkshow apabila kasus dibahas menyangkut masalah hoax.

Sebagaimana tersebut dalam Al-Hujurat ayat 6.

“Hai orang-orang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”

Fungsi tabayyun adalah mencegah musibah dalam suatu komunitas. Kita tentu sama sama tahu berapa banyak kerusuhan horisontal atau kejahatan massal diakibatkan berita hoax. Terakhir kejadian amuk masa di suatu desa karena adanya viral hoax tentang pelaku penculikan anak di India. Semua musibah itu muncul karena tidak adanya inisiatif untuk melakukan tabayyun kepada pihak terkait atau institusi berwenang.

Diam

Informasi dalam lini masa social media ibarat hujan jatuh di atap lalu jatuh di pelimbahan. Bagaimana cara kita untuk memanfaatkan air hujan seharusnya bening itu, tidak ada lain dengan mendiamkannya dalam ember sebelum dipergunakan.

Begitupun dalam ber-socmed, atau video-video sensitif. Tahanlah jemari untuk tidak komentar. Pastikan dulu jelas hitam putihnya sebelum mengambil kesimpulan.

“Cukup seseorang dikatakan dusta, jika ia menceritakan segala apa ia dengar.” (HR. Muslim no. 5).

Sebagai salah satu kaidah diperlukan di tahap ini adalah  triple test information disampaikan Socrates. Ini sangat penting dalam bermedia sosial.

Pertama, kebenaran.

“Apakah Anda yakin bahwa apa akan Anda katakan pada saya itu benar?”

“Tidak,” jawab orang itu, “Sebenarnya saya hanya mendengar tentang itu.”

“Baik,” kata Socrates, “jadi Anda tidak yakin itu benar. Baiklah sekarang saya berikan filter kedua.

Kedua, kebaikan.

“Apakah akan Anda katakan tentang teman saya itu sesuatu baik?”

“ Tidak, malah sebaliknya”

“Jadi,” Socrates melanjutkan, “Anda akan menceritakan sesuatu buruk tentang dia, tetapi Anda tidak yakin apakah itu benar. Anda masih memiliki satu kesempatan lagi, masih ada satu filter lagi.

Ketiga, kegunaan.

“Apakah akan Anda katakan pada saya tentang teman saya itu berguna bagi saya?”

“ Tidak, sama sekali tidak”

“Jadi,” Socrates menyimpulkannya, “bila Anda ingin menceritakan sesuatu belum tentu benar, bukan tentang kebaikan, dan bahkan tidak berguna, mengapa Anda harus menceritakan itu kepada saya?”

Oleh karena itu, Gaes jika informasi tersebut  belum diketahui kebenarannya, kebaikannya, dan kegunaannya, please jangan like and share! (tarwiyah)

Loading...