Apakah Nabi Nuh Bertemu Nabi Adam

Sebelumnya, silahkan lihat terlebih dahulu tentang usia Nabi Adam dan keturunannya.

Perbedaan pendapat seperti yang kita lihat dalam kitab Taurat, menunjukkan ada pertemuan antara Nabi Nuh asa dan Nabi Adam as. Benarkah demikian?
Dalam kurun waktu yang sama ada 2 nabi yang diutus meski tidak bersamaan.

Saya berharap kiranya perbedaan ketiga manuskrip ini tidak membuat takut dalam mengartikan kenyataan ini atau menegaskannya. Dilihat dari pertentangannya sangatlah jelas dan banyak tersebar di dalam pasal-pasal Kitab Suci yang terpelihara di tangan yang menurunkannya.

Apa Nabi Nuh as bertemu Nabi Adam as?
Taurat Samiri Menjawab.
Taurat Samiri mengatakan benar, Nuh mengenal Adam as. Nabi Nuh as hidup bersamanya selama 253 tahun tepat. Karena ketika Nabi Nuh as dilahirkan, Adam berusia 677 tahun. Adam hidup selama 930 tahun berdasarkan riwayat Taurat Samiri.

Taurat Ibrani Menjawab.
Tidak. Nabi Nuh as tidak bertemu Adam as. Nabi Nuh as dilahirkan pada 126 tahun setelah meninggalnya Nabi Adam as.

Taurat Yunani Menjawab.
Mereka menyangkal kebenaran Taurat Samiri sepanjang tulisannya. Dan terkadang membenarkan Taurat Samiri dan menyangkal pada kali waktu yang lain.
Tidak, Nabi Nuh as tidak bertemu Nabi Adam as.

Wallahu A’lam…

Umur Anak Turun Nabi Adam Hingga Nuh as

Kisah Islami Teladan pada sore ini admin ingin sharing mengenai usia anak-anak Nabi Adam as hingga Nabi Nuh as.
Adalah Kitab Suci Taurat yang menjadi patokan umur-umur mereka. Taurat dibagi menjadi 3 macam, yaitu Taurat Ibrani, Samiri dan Yunani.

Namun ketiga kitab itu sepakat bahwa Nabi Nuh as berumur 600 tahun ketika terjadi banjir bandang. Di lain pihak, masih ada pertentangan di ketiga kitab tersebut, dimana masing-masing yakin bahwa kitab tauratnya lah yang benar.

Akankah ketiga Taurat tersebut Palsu?
Yang jelas, hanya Allah SWT sajalah yang paling Mengetahui umur-umur mereka semua.
Dan hanya Allah SWT sajalah yang Maha Mengetahui.

Umur Teks Ibrani Teks Samiri Teks Yunani
Adam melahirkan Syits 130 130 230
Syits melahirkan Anusy 105 105 205
Anusy melahirkan Qinan 90 60 160
Qinan melahirkan Mahla’il 70 70 170
Mahla’il melahirkan Yarid 65 65 165
Yarid melahirkan Akhnukh 162 62 262
Akhnukh melahirkan Matusyalah 65 65 165
Matusyalah melahirkan Lamak 187 67 187
Lamak melahirkan Nuh 183 53 188
Umur Nuh ketika terjadi Banjir Besar 600 600 600
Total: 1656 1307 2262

Malaikat Munkar Nakir Diusir Wanita Mulia

Ada kisah riwayat yang sangat menarik buat buatku. Kisahnya memang agak pendek, namun sangat dahsyat ke sanubari.
Seorang wanita mulia, suci dan wara’ dengan tegas sekali mengusir Malaikat Munkar Nakir pada saat mendapatkan pertanyaan di alam kubur.

Lalu siapakah wanita teladan itu?
Dialah Rabi’ah binti Ismail Al Adawiyah, seorang tokoh sufi wanita yang sangat terkenal di dunia karena kesuciannya.

Wanita Mulia

Kisahnya.
Pada saat Rabi’ah akan meninggal dunia, orang-orang banyak yang menungguinya dan mereka meutup pintu kamar dari luar. Setelah itu mereka mendengar suara,
“Wahai jiwa yang damai, kembalilah kepada Tuhanmu dengan berbahagia.”


Beberapa saat kemudian sudah tidak ada lagi suara yang terdengar dari kamar itu. Mereka lalu membuka pintu kamar dan mendapatkan Rabi’ah telah berpulang ke Rahmatullah.

Setelah Rabi’ah meninggal, ada seseorang yang mengabarkan bahwa ia telah bermimpi dengan Rabi’ah. Dia bermimpi bahwa Rabi’ah ditanyai oleh Malaikat Munkar Nakir di alam kubur.
“Rabi’ah, bagaimana engkau menghadapi Munkar dan Nakir?” tanya orang yang bermimpi.

“Kedua malaikat itu datang kepadaku dan mengajukan pertanyaa,” kata Rabi’ah.
“Siapakah Tuhanmu?” tanya malaikat.
Rabi’ah menjawab,
“Pergilah kepada Tuhanmu dan katakan kepadaNya. Diantara beribu-ribu makhluk yang ada, jangan Engkau melupakan wanita tua yang lemah ini. Aku hanya memiliki Engkau di dunia yang luas, tak pernah lupa kepadaMu. Akan tetapi mengapakah Engkau mengirim utusan hanya sekedar menanyakan siapakah Tuhanku…”

Lalu Malaikat Munkar dan Nakir pergi menghadap Tuhan mereka untuk melaporkan kejadian tersebut.

Bara Api Menjadi Butiran Mutiara

Kisah ini terjadi pada zaman Nabi Isa as.
Pada saat itu hiduplah seorang wanita salihah yang selalu taat melaksanakan ibadah dan bahkan jika ia sedang beribadah, maka ia lupa segala-galanya karena hati dan pikirannya hanya tertuju kepada Allah SWT semata.

Api

Kisahnya.
Pada suatu hari wanita salihah itu sedang menanak nasi.
Di tengah-tengah kesibukannya mamasak, tiba-tiba datanglah waktu shalat. Maka ia pun menghentikan kegiatannya dan langsung beranjak untuk mengerjakan shalat. Ketika ia sedang terlena dalam kekhusukan ibadahnya, datanglah iblis laknatullah yang ingin menggoda dan menyesatkan wanita itu dari jalan Allah SWT.


Iblis ingin merusak ibadahnya dengan suatu cara yang dapat mengkhawatirkan hati wanita mulia itu. Akhirnya iblis menyamar sebagai seorang wanita dan masuk ke dalam rumahj wanita salihah itu sembari berkata,
“Aku akan menghanguskan masakanmu ini.”

Meski iblis telah melaksanakan segala rencana jahatnya itu, akan tetapi wanita salihah itu tetap khusyuk dalam ibadahnya, bahkan seolah-olah sudah tidak mempedulikan kehidupan dunianya lagi. Semuanya itu ia lakukan demi untuk mencari ridha Allah SWT.

Setelah mengetahuinya usahanya tidah membuahkan hasil, iblis kemudian menggunakan cara lain.
Kemudian diambillah anak wanita salihah itu untuk dibakar. Karena menurut anggapan iblis, bahwa seorang ibu pasti tidak tega jika anaknya celaka. Akan tetapi justru sebaliknya, wanita salihah itu tidak menunjukkan rasa cemas atas apa yang akan menimpa anaknya. Bahkan ia tetap khusyuk dalam beribadah, karena ia selalu yakin bahwa Allah SWT pasti akan menolongnya.


Ketika iblis memasukkan anak wanita salihah itu ke dalam kobaran api, pada saat itu juga Allah SWT menjadikan bara api menjadi butiran-butiran mutiara yang berwarna merah.

Kabar tersebut akhirnya sampailah kepada Nabi Isa as.
Nabi Isa as bertanya,
“Mengapa semua itu bisa terjadi?”
“Wahai Nabiyullah, Setiap kali saya berhadats, saya selalu berwudhu kembali dan setiap kali ada orang yang meminta, maka saya selalu memberi dan aku selalu menanggung derita sebagaimana yang ditanggung oleh orang-orang yang mati,” jawab wanita salihah itu.

Mampu Mendatangkan Pakaian dari Surga

Kisah Islami Teladan dengan Kisah Mukjizat Rasulullah SAW.
Mukjizat Rasulullah SAW ada lagi selain mampu membelah bulan yang terkenal itu. Salah satunya adalah bahwa Nabi SAW mampu mendatangkan pakaian surga untuk dikenakan putrinya, Fatimah Az-Zahra.

Kisahnya.
Pada suatu hari Rasulullah SAW sedang duduk berzikir di samping Ka’bah.
Tiba-tiba saja para pembesar dan para bangsawan Makkah datang dan menemui beliau sambil mengucapkan salam.

“Wahai Rasulullah, kami datang kepadamu untuk memberi kabar bahwa kami akan mengadakan akad nikah dan resepsi pernikahan antara si fulan dan si fulanah. Kami bermaksud mengundang Fatimah Az-Zahra untuk menghadiri pernikahan tersebut,” kata salah seorang pembesar Makkah.

“Bersabarlah, aku akan menyampaikan hal ini kepada putriku. Jika dia berniat datang, maka akan aku kabari kalian,” tutur Rasulullah SAW.

Pakaian Fatimah Usang dan Bertambal.
Setelah itu Rasulullah SAW segera pergi ke rumah putrinya.
Sesampainya di sana, Beliau mengucapkan salam dan menceritakan perihal undangan pernikahan tersebut. Beliau ingin mengetahui apakah putrinya ingin menghadiri undangan tersebut atau tidak.

“Ya Rasulullah, jiwa saya sebagai tebusan Anda, wahai kekasih Allah Yang Maha Mulia. Saya berpikir bahwa undangan mereka bertujuan untuk mengejek dan memperolok-olok diri saya,” ujar Fatimah.
“Mengapa demikian,” tanya Rasulullah SAW.
“Karena para wanita dan gadis-gadis bangsawan Arab pada pesta pernikah itu mengenakan pakaian mewah dan mahal. Akan tetapi, saya tak punya apa-apa selain pakaian usang yang bertambal dan sepatu rusak pula. Jika aku datang, pastilah mereka akan memperolokku, menghina dan mengejek diriku,” jelas Fatimah.


Mukjizat Rasulullah SAW: Mampu Mendatangkan Pakaian dari Surga.
Rasulullah SAW pun menjadi sedih, tak terasa beliau meneteskan air mata.
Nabi SAW menarik nafas panjang dan matanya berair mendengar penuturan anaknya tersebut.
Dalam kesedihan hati itu, saat itulah mukjizat kemabali datang. Malaikat Jibril datang atas perintah Allah SWT untuk menjumpai Rasulullah SAW.

“Wahai Rasulullah, katakanlah kepada Fatimah agar dia mengenakan pakaian yang dia miliki itu dan pergi ke acara resepsi tersebut. Sesungguhnya Kami menyimpan Hikmah dalam hal ini,” kata Malaikat Jibril.

Rasulullah SAW menyampaikan pesan Allah SWT ini kepada Fatimah.
Fatimah pun langsung sujud syukur kemudian berdiri dan mengenakan pakaian usang dan bertambal. Kemudian Fatimah minta izin kepada ayahnya untuk menghadiri acara pernikahan tersebut.


Kemudian apa yang terjadi?
Saat itulah Allah SWT memerintahkan Malaikat Jibril agar mengambil pakaian dari surga untuk turun ke bumi bersama dengan ribuan bidadari yang bertugas memakaikan pakaian surga pada tubuh Fatimah. Fatimah pun terliaht sangat agung dan terhormat dengan pakaian itu.
Penuh keagungan dan kemuliaan melekat dalam diri Fatimah.

Begitu sampai di tempat acara, cahaya suci terpancar menerangi seluruh wanita yang hadir dalam acara tersebut. Seluruh wanita memandangi wajah dan pakaian yang dikenakan Fatimah yang bak cahaya dengan penuh tgakjub dan kagum.
Secara spontan, para wanita menyambut kedatangan wanita agung dan mulia ini hingga tak seorang pun yang mendampingi si pengantin wanita.
Sebagian ada yang mencium tangan dan kaki Fatimah serta mengantar masuk ke majelis pernikahan dengan penuh penghormatan dan kemuliaan.

Dialog Setan dan Rahib

Dari Wahab bin Munabbih ra, diberitakan oleh Muhammad bin Abil Qasim bahwasanya pada masa Nabi Isa as, setan berniat menjerumuskan seorang rahib yang sedang bertapa.
Namun usaha setan tersebut tidak membuahkan hasil walaupun dengan berbagai cara ia menggoda.

Kemudian setan mendatangi sang rahib dengan rupa yang menyerupai Nabi Isa as.
Setan memanggil,
“Wahai rahib, mendekatlah kepadaku, aku akan menyampaikan sesuatu kepadamu.”
Sang rahib berkata,
“Menjauhlah dariku, aku tak mau menghabiskan umurku dengan membuang-buang waktu.”

Setan terus menerus membujuk.
“Marilah mendekat kepadaku, aku adalah Isa Al-Masih.”
Sang rahib menjawab,
“Jika engkau benar-benar Isa Al-Masih as, aku sama sekali tidak membutuhkanmu.”
“Bukankah dia telah memerintahkan kepada kami untuk beribadah dan memperingati kami dengan hari kiamat.”

“Menjauhlah dariku, aku tidak membutuhkanmu,” kata rahib.
Maka setan pun pergi dan meninggalkan sang rahib.

Pesan Khidir Kepada Nabi Musa as

Kisah Islamiah menghadirkan kisah nabi.
Nabi Khidir as dan Nabi Musa as tiada jemunya untuk dikisahkan. Sebab pertemuan mereka banyak sekali ilmu yang bisa dipelajari oleh semua orang sampai kini.

Nabi Khidir as

Nabi Khidir as ini merupakan nabi yang misterius, tidak bisa sembarang manusia bisa menemuinya juga menghilang sekehendak hatinya.

Kisahnya.
Dari Al Bidayah Wa An Nihayah halaman 329 serta Ihya Ulumuddin halaman 56.
Ketika Khidir hendak berpisah dengan Nabi Musa as, berkatalah Nabi Musa as,
“Berilah aku wasiat.”

Nabi Khidir as menjawab,
“Wahai Musa, jadilah kamu orang yang berguna bagi orang lain. Janganlah sekali-kali kamu menjadi orang yang hanya menimbulkan kecemasan diantara mereka hingga kamu dibenci oleh mereka. Jadilah kamu orang yang senantiasa menampakkan wajah ceria dan janganlah kamu berkeras kepala atau bekerja tanpa tujuan. Janganlah kamu mencela seseorang hanya karena kekeliruannya saja. Kemudian tangisilah dosa-dosamu, wahai Ibnu Imron.”

Juga diriwayatkan bahwa setelah khidir as mau meninggalkan Nabi Musa as, dia berpesan kepadanya,
“Wahai Musa, pelajarilah ilmu-ilmu kebenaran agar kamu dapat mengerti apa yang belum kamu pahami, tetapi jangan sampai kamu jadikan ilmu-ilmu itu hanya sebagai bahan omongan.”
(HR. Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Asakir).

Riwayat Lain.
Dan pesan yang terakhir dicuplik dari Kitab Tahdzibuk Asma, shahih muslim fi Syarkin Nawawi, Ruhul Mu’ni XV halaman 223.
Sebelum Khidir berpisah dengan Nabi Musa as yang tidak sabar itu, dia berpesan,
Wahai Musa, sesungguhnya orang yang selalu memberi nasehat itu tidak pernah jemu seperti kejemuan orang-orang yang mendengarkannya. Maka janganlah kamu berlama-lama dalam menasehati kaummu.

Dan ketahuilah bahwa hatimu itu ibarat sebuah bejana yang harus kamu rawat dan pelihara dari hal-hal yang memecahkannya. Kurangilah usaha-usaha duniawimu dan buanglah jauh-jauh di belakangmu karena dunia ini bukanlah alam yang akan kamu tempati selamanya. Kamu diciptakan adalah untuk mencari tabungan pahala-pahala akhirat nanti.
Bersikap ikhlaslah dan bersabar hati menghadapi kemaksiatan yang dilakukan kaummu.


Wahai Musa, tumpahkanlah seluruh ilmu pemgetahuanmu, karena tempat yang kosong akan terisi oleh ilmu yang lain. Janganlah kamu banyak mengomongkan ilmumu itu karena kamu akan dipisahkan oleh kaum ulama.
Maka bersikap sederhana sajalah, sebab sederhana itu akan menghalangi aibmu dan akan membukakan taufik hidayah Allah SWT untukmu.

Berantaslah kejahilan kamu dengan cara membuang sikap masa bodohmu (ketidakpedulian) yang selama ini menyelimuti dirimu. Itulah sifat orang-orang yang arif lagi bijaksana, menjadi rahmat bagi semuanya.

Apabila ada orang yang bodoh datang kepadamu dan mencacimu, redamlah ia dengan penuh kedewasaan serta keteguhan hatimu.
Wahai putera Imron, tidaklah kamu sadari bahwa ilmu Allah SWT yang kamu miliki hanya sedikit saja. Sesungguhnya menutup-nutupi kekurangan yang ada pada dirimu atau bersikap sewenang-wenang adalah menyiksa dirimu sendiri. Janganlah kamu buka pintu ilmu ini jika kamu tidak bisa menguncinya. Jangan pula kamu kunci pintu ilmu ini jika kamu tak tahu cara membukanya, hai Putera Imran.

Barang siapa suka menepuk-nepuk harta benda, dia sendiri bakal mati ertimbun dengannya hingga dia merasakan akibat dari kerakusannya itu.
Namun, semua hamba yang mensyukuri semua karunia Allah SWT serta memohon kesabaran atas ketentuan-ketentuanNya, dialah hamba yang zuhud dan patut diteladani. Bukankah orang seperti itu mampu mengalahkan nafsunya dan dapat memerangi bujuk rayu setan?
Dan dia pula yang mengetam buah dari ilmu yang selama ini dicarinya. Segala amal kebajikannya akan dibalas dengan pahal di akhirat.
Sedangkan kehidupan dunianya akan tenteram di tengah-tengah masyarakat yang merasakan jasa-jasanya.

Wahai Musa, pelajarilah oelhmu ilmu-ilmu pengetahuan agar kamu dapat mengetahui segala yang belum kamu ketahui, misalnya masalah-masalah yang tidak bisa diomongkan atau dijadikan bahan pembicaraan saja.
Itulah penuntun jalanmu dan orang-orang akan disejukkan hatinya.

Wahai Musa, putera Imron, jadikanlah pakaianmu bersumber dari dzikir dan fikir serta perbanyaklah amal kebajikan. Suatu hari nanti kamu tidak akan mampu mengelak dari kesalahan, maka pintalah keridhaan Allah SWT dengan berbuat kebajikan karena pada saat-saat tertentu akalmu pasti akan melanggar laranganNya.

Sekarang telah kupenuhi kehendakmu untuk memberi pesan-pesan kepadamu.
Omonganku ini tidak akan sia-sia bila kamu mau menurutinya.
Setelah itu Khidir meninggalkan Nabi Musa as yang sedang duduk termenung dalam tangis kesedihan.

Ujian Malaikat kepada Hakim

Kisah Islamiah dengan kisah hakim dan malaikat.
Malaikat memberikan ujian kepada ketiga hakim, siapakah gerangan yang mau dan tidak menerima sogokan dari malaikat.

Kisahnya.
Pada zaman dahulu di kalangan Bani Israil, hiduplah empat orang hakim. Ketika salah seorang dari mereka meninggal dunia, maka untuk menegakkan hukum secara adil dan jujur sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Allah SWT, maka diujilah ketiga hakim tersebut.

Setelah itu, turunlah malaikat untuk menguji masing-masing hakim tadi, apakah ketiga hakim itu adil dalam menegakkan hukum atau justru sebaliknya. Selanjutnya, dipanggillah anak sapi, ditarik kerahnya hingga anak sapi itu pun mengikuti di belakang kudanya. Maka terjadilah persengketaan di antara mereka, yaitu yang empunya sapi dengan malaikat yang menyerupai manusia tadi.

Setelah lama berselisih, maka akhirnya mereka sepakat untuk mengajukan permasalahan itu ke hakim pertama.
Dan hakim yang pertama itu, malaikat menyuapnya dengan memberi hadiah intan permata yang dibawanya sambil berkata,
“Wahai hakim, putuskanlah bahwa akulah pemilik anak sapi itu, maka intan permata ini akan aku berikan kepadamu.”
“Lalu aku harus bagaimana?” tanya hakim pertama.
“Lepaskanlah sapi dan anaknya,” balas malaikat.

Lalu sang pemilik sapi dan malaikat yang menyerupai manusia itu mengajukan permasalahnnya kepada hakim yang kedua dan hasilnya pun sama untuknya.

Hakim Ketiga.
Akan tetapi ketika malaikat tadi hendak memberikan intan mutiara sebagai sogokan untuknya, hakim itu berkata,
“Saya sedang haid,” kata hakim ketiga.
Mendengar jawaban itu malaikat penguji terkejut dan bertanya,
“Subhanallah, haidkah seorang laki-laki,” katanya.
“Subhanallah, apakah kuda melahirkan seekor sapi?” kata hakim.

Hakim yang ketiga ini adalah hakim yang saleh, sehingga ia tidak mau salah dalam mengambil keputusan hanya karena adanya sogokan dan suap.
Akhirnya, diputuskanlah oleh hakim itu bahwa sapi itu memang milik empunya, bukan milik malaikat yang menyamar sebagai manusia.