Ngeri, Satu Keluarga di Korea ini Diserang Zombie saat Tengah Malam. Leher Sang ayah Sampai Bolong

eketawa.com – Pasti kamu sudah gak asing lagi dengan zombie sosok mayat hidup ini biasa hanya ada di film film dan hanya sosok fiktif saja namun siapa sangka ternyata ada zombie beneran bahkan sempat melukai orang.

Nah baru baru ini di Korea satu keluarga dikabarkan diserang oleh Zombie yang mengerikan, kejadian in terjadi saat tengah malam. Keluarga ini kage ketika ada suara aneh di dalam rumahnya.

Keluarga ini kaget ketika ia keluar dari kamar ternyata ada sosok manusia berlumuran darah yang masuk kerumahnya.

Dugaan polisi orang yang menjadi zombie ini berdarah darah dibagian kepala karena berusaha masuk ke dalam rumah dengan memecahkan kaca menggunakan kepalanya sehingga bagian kepala pun terluka.

Zombie misterius itupun kemudian menyerang salah satu anggota keluara sang ayah yang berusaha untuk menghalau serangan pun mendapatkan luka, zombie itu sempat menggigit leher sang ayah hingga berlubang.

 

digigit zombie gambar : viral4real.com

Gak cuman ayah putri keluarga ini juga mendapatkan gigitan dari zombie itu, untugya anak pria dari keluarga itu gak sempat jadi korban karena berhasil melarikan diri.

Polisi menduga orang yang menjadi zombei dan melukai satu keluarga di Korea ini disebabkan oleh narkoba jenis Flakka yang bisa membuat orang seperti zombie dan bisa melukai orang lain.

Obat jenis ini bisa membuat kerusakan psikologis penggunanya.

sumber berita

Detik-Detik Terakhir Wafatnya Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani

Assalamu’alaikum wr. wb.

Hadir kembali Blog Kisah Teladan Islami di sore hari ini dengan mengangkat judul Kisah Wafatnya Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani. Pada waktu Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani merasakan sakaratul maut, jasadnya juga merasakan sakit. Akan tetapi tidak dengan hatinya. Saat itu hatinya benar-benar merasa sangat dekat dengan Allah SWT.

Berikut Kisahnya

Syeikh Abgul Qadir Al-Jailani merupakan salah seorang ulama Ahlussunnah yang berasal dari Negeri Jailan. Kepada negeri inilah beliau dinasabkan sehingga disebut “Al-Jailani” yang artinya seorang yang berasal dari Negeri Jailan. Ia lahir pada hari Rabu, Bulan Ramadan 470 H atau 1077 M.

Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani kemudian tumbuh menjadi seorang ulama sufi yang kemasyurannya setingkat dunia. Ia memiliki pribadi yang teguh dalam berprinsip, sang pencari sejati, dan penyuara kebenaran kepada siapa saja dan dengan resiko apapun.

Usianya dihabiskan untuk menekuni jalan tasawuf, hingga ia mengalami pengalaman spiritual dahsyat yang mempengaruhi keseluruhan hidupnya. Dalam belasan karya orisinilnya, dapat dijumpai jejak Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani.

Pertanyaan Sang Anak

Selain banyak mewarisi karya tulis, Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani meninggalkan beberapa nasehat menjelang kewafatannya. Akhir hayat Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani didahului dengan kondisi kesehatannya yang terus menurun. Kala itu putra-putranya menghampiri dan mengajukan sejumlah pertanyaan.

“Berilah aku wasit wahai ayahku. Apa yang harus aku kerjakan sepeninggal ayah nanti?” tanya putra sulungnya Abdul Wahab.
“Engkau harus senantiasa bertakwa kepada Allah. Janganlah takut kepada siapapun kecuai kepada Allah. Setiap kebutuhan, mintalah kepadaNya. Jangan berpegang selain kepada tali-Nya. Carilah segalanya dari Allah,” jawab sang ayah yang saat itu tengah menghadapi sakaratul maut.

“Aku diumpamalan seperti batang tanpa kulit. Menjauhlah kalian dari sisiku sebab yang bersamamu itu hanyalah tubuh lahiriah saja, sementara selain kalian, aku bersama batinku,” sambung Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani.


Hatinya Dekat dengan Allah SWT

Sementara itu, putranya yang lain yang bernama Abdul Aziz terlihat akan bertanya kepada ayahnya, namun belum sempat berucap, Syeikh Abdul Qadir Aljailani langsung menyahut,
“Jangan bertanya tentang apapun dan siapapun kepadaku. Aku sedang kembali dalam ilmu Allah.”

Tak lama berselang, putranya yang lain yang bernama Abdul Jabar, bertanya,
“Apakah yang dapat ayahanda rasakan dari tubuh ayahanda?”
Syeikh Abdul Qadir menjawab,
“Seluruh anggota tubuhku terasa sakit, kecuali hatiku. Bagaimana ia dapat sakit, sedangkan ia benar-benar bersama Allah.”

Kemudian Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani menyambung lagi.
“Mintalah tolong kepada Tuhan yang tiada Tuhan selain Dia. Dialah Dzat yang Hidup, tidak akan mati, tidak pernah takut karena kehilangan.”

Akhirnya kematian pun segera menghampiri Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani. Beliau menghembuskan nafas terakhir di Baghdad setelah maghrib tanggal 9 Rabiul Awal 561 H atau 15 Januari 1166 M. Sang Syeikh meninggal dala usia 89 tahun.

Demikian kisah detik-detik terakhir meninggal Sang Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Cicit Rasulullah Mampu Sembuhkan Lumpuh

Assalamu’alaikum wr. wb.

Subhanallah…
Islam agama yang benar.
Itulah pengakuan dari keluarga Yahudi setelah anaknya sembuh dari kelumpuhan berkat air wudhu saja. Air wudhu yang tak sengaja dipungut dan dioleskan ke kaki si anak Yahudi, tiba-tiba saja kakinya bisa digunakan untuk berdiri, bahkan berlari.

Bekas air wudhu tersebut adalah bekas air wudhu Waliyullah Sayyidah Nafisah yang merupakan cicit dari Rasulullah SAW.
Beliau adalah seorang wanita teladan di antara muslimat-muslimat lainnya. Dengan ketakwaannya yang tinggi kepada Sang Pencipta, beliau dikenal sebagai salah satu waliyullah yang memiliki banyak karomah.

Dan salah satu karomahnya adalah bisa menyembuhkan sakit lumpuh dengan air wudhunya.
Subhanallah…

Kisahnya

Silsilah Sayyidah Nafisah adalah beliau putri dari Hasan Al Anwar bin Zaid Al Ablaj bin Imam Hasan Ali bin Abi Thalib. Beliau juga menyandang sebagai cicit dari Rasulullah SAW. Di balik derajat nasab yang agung itu, Sayyidah Nafisah rupanya memiliki tingkat ketakwaan yang tinggi dan senantiasa berzikir kepada Allah SWT.

Pada suatu ketika Sayyidah Nafisah datang ke Mesir untuk menetap dan tinggal di sana. Di Mesir, beliau tinggal berdekatan dengan keluarga Yahudi yang memiliki seorang anak gadis yang sedang sakit lumpuh. Meski berbeda keyakinan, namun Sayyidah Nafisah sangat menghormati tetangganya itu.
(Memang Islam sangat menghormati tentangga dan pemeluk agama lain).

Di hari yang cerah, si ibu gadis Yahudi hendak pergi untuk suatu keperluan. Ia merasa kebingungan karena tidak tahu kepada siapa anaknya yang lumpuh tadi dititipkan. Setelah berfikir sejenak, akhirnya sang ibu memutuskan untuk menitipkan anak gdisnya kepada Sayyidah Nafisah.


Berwudhu

Sayyidah Nafisah tak merasa keberatan sedikit pun dengan amanah sang ibu bahkan beliau menjaga amanah itu dengan sebaik-baiknya. Ketika datang waktu shalat, Sayyidah Nafisah langsung bergegas mengambil air wudhu. Namun, di tengah-tengah Sayyidah berwudhu, air basuhan yang terjatuh tanpa disadari mengalir ke tempat anak gadis Yahudi yang lumpuh itu.

Gadis Yahudi itu kemudian mengambil bekas air wudhu tersebut sedikit dengan tangannya. Kemudian ia membasuhkannya ke kedua kakinya yang lumpuh.

Subhanallah…
Atas izin Allah SWT, anak gadis tersebut tiba-tiba saja bisa langsung berdiri. Tak lama kemudian ia sudah sembuh total dari kelumpuhannya. Tentu saja hal ini membuat si anak gadis Yahudi sangat riang dan ia bermaksud hendak mengucapkan terima kasih kepada Ayyidah Nafisah. Tapi apa daya, niatnya tertunda karena Sayyidah Nafisah sedang asyik bertemu kepada Sang Pencipta lewat Shalatnya.

Selang tak berapa lama kemudian, ibu gadis tersebut ternyata sudah kembali.
Betapa kagetnya sang ibu karena ia disambut anak gadisnya dengan berlari-lari kecil. Seketika itulah sang ibu menyadari bahwa anak gadisnya sudah sembuh dari kelumpuhan.

Sang ibu dan anak saling berpelukan.
Sang ibu menanyakan apa penyebab kesembuhan lumpuhnya. Si anak gadis kemudian menceritakan semua yang telah dialaminya.

Begitu mendengar penuturan anaknya, sang ibu menangis sambil tersungkur ke tanah.
Sang ibu berkata,
“Tak diragukan alagi, agama Sayyidah Nafisah adalah agama yang mulia dan sungguh-sungguh agama yang benar.”

Setelah mengucapkan yang demikian itu, di saat yang bersamaan, Sayyidah Nafisah sudah selesai shalat.
Sang ibu gadis Yahudi langsung saja mendekai Sayyidah Nafisah, memeluk dan menciuminya. Sang ibu juga ingin memeluk agama yang dipeluk Sayyidah Nafisah. Akhirnya, sang Ibu langsung mengucapkan syahadat dengan penuh ikhlas karena Allah SWT.

Subhanallah…

Satu Keluarga Yahudi Masuk Islam

Beberapa saat kemudian, ayah gadis Yahudi tersebut datang.
Laki-laki itu merupakan salah satu tokoh Yahudi dan dia pun sangat gembira ketika melihat anak gadisnya sudah tidak lumpuh lagi.

Kemudian dia bertanya kepada istrinya tentang sebab kesembuhan anaknya.
Sang istri pun menjawab dan menceritakan semuanya dengan rasa gembara tiada tara.

Setelah mendengar cerita istrinya, sang ayah kemudian mengangkat tangan ke langitdan berkata,
“Maha Suci Engkau yang memberikan petunjuk terhadap orang yang Engkau kehendaki. Demi Allah, agama Sayyidah Nafisah adalah agama yang benar.”

Setelah mengucapkan demikian, sang ayah pun menucap dua kalimat syahadat sebagai tanda akan keislamannya.
Akhirnya seluruh keluarga masuk islam berkat karomah cicit Nabi Muhammad SAW.
Subhanallah…

Admin jadi ikutan nangis deh karena terharu.
Ada yang bisa kita jadikan pelajaran dari kisah ini, di antaranya adalah Islam sangat menghormati pemeluk agama lain dan tidak memaksakan agama terhadap orang lain.