Ketua DPRD Kolaka Utara ini Tewas ditusuk Istrinya sendiri, Berikut 5 Fakta yang Perlu Kamu Ketahui

eketawa.com – Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara, Musakkir Sarira dikabarakan telah meninggal dunia akibat ditusuk oleh istinya sendiri.

Dalam hasil pemeriksaan diketahui ada luka tusuk pada Rabu (18/10) lalu. Almarhum meregang nyawa di tangan istrinya sendiri inisial AE. Menurut keterangan, korban meninggal usai ditusuk di perut bagian atas setelah dirinya kembali dari pekerjaannya hari itu, Selasa (17/10).

Namun sebelum kabar akibat ditusuk si istri ada kabar lain yang mengatakan jika politikus PDI Perjuangan itu sempat jatuh di kamar mandi dan membentur benda tajam. Sementara itu, luka di bagian perut menyebabkan almarhum kehabisan darah.

Akan tetapi, hasil penyelidikan yang dilakukan oleh Polres Kolaka Utara, luka sobek itu dipastikan merupakan luka tusukan. Setelah kasus ini didalami, akhirnya pada Kamis (19/10), istri Musakkir AE ditetapkan sebagai tersangka.

Dari sejumlah bukti-bukti yang ada, berhasil pula ditemukan fakta-fakta yang dialami oleh Almarhum. Mau tahu apa saja fakta-fakta menarik yang terjadi pada almarhum Musakkir Sarira . Dilansir dari Brilio.net, inilah dia diantaranya:

1. Meninggal di rumah dinas.

Penusukan (gambar:source)

Fakta yang pertama yakni diungkapkan oleh Kapolres Kolaka Utara AKBP Bambang Satriawan menjelaskan pemicu penusukan itu karena masalah pribadi. Keduanya terlibat percekcokan menjelang tengah malam di rumah dinas, Kecamatan Lasusua, Kolaka Utara.

“Motifnya sementara kita dapatkan pemeriksaan bahwa sebelum terjadi penganiayaan yang menyebabkan meninggal, korban dengan tersangka sempat percekcokan masalah pribadi,” ujar Bambang saat dihubungi merdeka.com seperti dikutip brilio.net, Jumat (20/10).

2. Sebab kematian.

Penusukan (gambar:source)

Selain itu, menurut Kapolres Kolaka Utara mengatakan jika korban meninggal karena luka tusuk pada bagian perut atas bagian kanan sedalam 4,1 sentimeter mengenai hati korban. Luka dalam itu pun mengakibatkan pendarahan sehingga korban meninggal dunia, darah sekitar 700 cc keluar dari hati.

Sebelum ditangani pihak ICU RSUD Kolaka, ketua DPRD itu merupakan pasien rujukan dari RSUD Kolaka Utara. Korban dirujuk pada Rabu (18/10) sekitar pukul 11.00 Wita.

RSUD Kolaka Utara berjarak sekitar 150 kilometer dari RSUD Kolaka atau bisa ditempuh selama 3 jam perjalanan darat. Oleh karena itu, diduga kuat korban kehabisan darah saat dalam perjalanan.

3. Istri ketua DPRD jadi tersangka.

Penusukan (gambar:source)

Dengan adanya beberapa bukti, pihak kepolisian pun berusaha memeriksa empat orang saksi yang merupakan orang terdekat korban. Setelah dilakukan pemeriksaan, akhirnya polisi menetapkan istri korban AE alias Andi Erni Astuti sebagai tersangka pembunuhan.

AE pun mengakui jika ia telah menusuk suaminya hingga mengakibatkan meninggal dunia.

Menurut Kasat Reskrim Polres Kolaka Utara, AKP Mohammad Salman, diduga istrinya jengkel dengan suaminya. Karena saat dinasihati, sang suami malah tak mau mendengar.Selanjutnya Musakkir memilih pergi meninggalkan kamar karena tak mau memperpanjang masalah saat istrinya tengah berbicara di dalam kamar.

Saat kembali ke dalam kamar, AE kemudian kembali mendengar pintu terayun. Saat itulah, AE langsung meraih sebilah pisau dapur yang terletak di atas meja rias.

Tiba-tiba, Musakkir Sarira muncul di hadapan istrinya yang sedang mengintip ke arah datangnya suara. Gerakan refleks, sang istri lalu menancapkan pisau tersebut tepat ke arah hati suaminya.

4. Kerap cekcok dan hampir cerai.

Penusukan (gambar:source)

Fakta yang keempat diungkapkan oleh salah satu teman dekat korban yakni Litanto yang mengatakan ada beberapa sisi berbeda dari wanita berhijab itu. Menurut Litanto, sang istri cemburuan dan suka mencurigai sang suami saat terima telepon dari orang lain. AE sendiri berprofesi sebagai pegawai negeri sipil yang bertugas di Dinas Kesehatan Kolaka Utara dengan jabatan Kepala Bagian (Kabag). Ia diduga melakukan tindakan nekad itu karena dirasuki api cemburu pada suami karena kabarnya muncul orang ketiga di antara mereka.

Selain itu, istri almarhum yang merupakan istri kedua ini juga sempat ingin menggugat cerai sebelum berangkat menunaikan ibadah haji. Namun, almarhum Musakkir menolak karena memikirkan tiga anak perempuannya yang masih kecil.

5. Ancaman hukuman.

Penusukan (gambar:source)

Dan dari hasil autopsi menyebutkan bahwa korban meninggal akibat tusukan yang mengenai hati. Hal ini dibuktikan dari bercak darah dan pisau dengan bekas darah korban. Dan pada akhirnya, AE pun mengakui sangat menyesal telah melakukan penusukan tersebut. Kini AE dijerat dengan Pasal 338 KUHP, susidair Pasal 351 ayat 3 KUHP terkait pembunuhan dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara.

Nah, itulah dia kelima fakta dari kasus penusukan yang dialami oleh Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara.

sumber berita

Padahal Gak Lama lagi Mau Nikah Polisi ini malah diduga Bunuh diri Gunakan Pistolnya Sendiri di dalam Mobil

eketawa.com – Kasus bunuh diri yang dilakukan oleh Bripda Azan Fikri ini memang membuat keluarga hingga kerabat terdekat terkejut.

Kabar bila Bripda hendak mempersunting pujaan hatinya, Resi binti H Basir (25) kini sepertinya hanya tinggal kenangan setelah kejadian bunuh diri yang dialami Bripda Azan Fikri di dalam mobilnya.

Azan ditemukan tewas bersimbah darah di dalam mobilnya, Senin (9/10/2017) pagi, sekitar 30 meter dari rumah tunangannya di Dusun VI Rawabening Desa Tri Tunggal Kecamatan Tungkal Ilir, Kabupaten Banyuasin.

Menurut hasil pemeriksaan, terdapat luka tembak tembus di kepalanya, sementara tangan kanannya masih memegang pistol. Dugaan sementara, Azan bunuh diri menggunakan pistol miliknya. Namun keluarga tidak percaya begitu saja.

Apalagi pada Minggu (8/10/2017) pagi, Azan pergi kondangan ke Palembang bersama Resi, dan malam harinya sempat ngobrol dengan Resti, ibunya Resi.

“Kami dapat telepon dari keluarga yang beritahu pagi tadi. Tidak mungkin dia bunuh diri.”

“Saya kenal sifatnya. Dia orangnya mandiri, walau ada masalah bisa diselesaikan sendiri,” kata Fitri (55), kakak kandung Azan ditemui Tribun Sumsel di kediaman Desa Talang Gelumbang Suak Bara, Kelurahan Seterio, Bayuasin III.

Azan merupakan personel Unit Reskrim Polsek Sungai Lilin Polres Muba. Fitri mengatakan, adiknya itu sudah bertunangan dengan Resi, bidan di Puskesmas Kecamatan Tungkalilir.

“Sehari-hari orangnya membaur dengan masyarakat, cuma kalau lagi sibuk dinas kadang tidak pulang sama sekali dan tinggal di Sungai Lilin sana.”

“Dia mau nikah akhir tahun ini, sudah tunangan,” tuturnya, dengan mata berkaca-kaca.

Sementara ayahnya, Panani, tampak terpukul atas kepergian putra bungsunya itu.

“Ini sudah takdir, kami keluarga sudah ikhlas melepas kepergiannya,” katanya.

Dugaan jika Azan bunuh diri di dalam mobil itu karena ada saksi yang mengatakan jika terdengar suara letusan.

Pada saat itu, Bribda Azan dikabarkan akan menjemput Resi di Dusun VI Rawabening, Desa Tri Tunggal, Kecamatan Tungkal Ilir. Keduanya sempat menghadiri resepsi pernikahan di Palembang.

Namun, usai menghadiri hajatan, almarhum bersama kekasihnya bertolak dari Palembang menuju Sungai Lilin menggunakan kendaraan pribadi Mobilio Hitam Nopol BG 1652 JF.

Malam harinya, pukul 23.30 WIB, Azan mengantar Resi ke rumahnya dan sempat bertemu dengan calon ibu mertua, Resti Darlina. Tidak lama Azan berpamitan kembali ke Sungai Lilin.

Pada pukul 02.00 WIB, warga Desa Rawa Bening yang sedang ronda malam mendengar suara letusan pistol satu kali.

Namun belum diketahui sumbernya. Warga mencari sumber suara letusan tersebut dan tidak menemukannya.

Pagi harinya, sekitar pukul 07.00, Resi keluar rumah melihat mobil Honda Mobilio Hitam bernopol BG 1652JF milik Bripda Azan masih terparkir berjarak kurang lebih 30 meter dari rumahnya.

Mesin mobil masih menyala dan terkunci dari dalam membuat Resi curiga. Saat dilihat, dari kaca pintu tengah sebelah kiri ada yang pecah.

Resi terkejut melihat calon suaminya sudah meninggal dunia dalam kondisi bersimbah darah. Percikan darah Bripda Azam menciprat di bagian dalam mobil. Terlihat adanya luka tembak di kepala sebelah kanan Azan yang menembus ke kepala sebelah kiri.

Bripda bunuh diri (gambar:source)

Posisi tangan kanan Azan masih memegang senjata api. Resi pun memanggil warga untuk mengevakuasi korban. Korban kemudian dibawa ke RS Bhayangkara Palembang untuk mengetahui penyebab pasti kematiannya.

Saat ini, Kapolsek Sungai Lilin, AKP Ardeva Lumy SIk membenarkan Bripda Azan Fikri anggota Polsek Sungai Lilin, tetapi pihaknya belum bisa berbicara lebih banyak.

“Minta maaf sekali saya bisa komentar masalah tersebut, saat ini masih dalam tahap penyelidikan lebih lanjut. Sekali lagi minta maaf belum bisa memberikan keterangan atas kejadian ini,” kata Ardeva ketika dihubungi, Senin (9/10/2017), seperti yang dilansir dari line.me (10/11/2017).

sumber berita